Bagiku, tidak pernah ada kesalahan karena mengenalmu. Jikapun ada, maka itu salahku karena memilih untuk mengenalmu. Semua sesederhana itu. Namun, tidak pernah ada kesalahan pula bila aku lupa. Itu bukan salahku saat aku memilih lupa mengenalmu. Juga bukan salahmu saat kau lupa dengan aku. Atau sok lupa? Setiap orang egois, kau tahu? Termasuk aku, dan kamu juga.
Sebagai penutup, tidak salah kan kalau aku dan kamu tak dapat diganti dengan kata kita?
Pamekasan, 8 Maret 2015
21.21 WIB
Minggu, 08 Maret 2015
Sabtu, 07 Maret 2015
Who is Angel?
Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘Angels of Morning Star Club’
“Malaikat? Apa itu? Tidak ada kata itu dalam kamusku.” Ucap Lun
tajam saat menjawab pertanyaanku.
Aku menghela nafas. Mungkin, Lun
pantas mengatakan itu. Kisah hidupnya sangat miris. Aku, sahabat terdekatnya, hanya bisa membantu
agar Lun tidak sampai sakit jiwa. Saat ini Lun tinggal denganku. Kami menyewa
satu kamar kos yang cukup luas untuk dua orang. Sampai saat ini, aku belum
pernah mendengar Lun menangis. Setiap hari wajahnya berkisar antara
bahagia-datar-sedih. Jika orang melihat wajahnya, akan terbayang sosok nona
yang perfeksionis. Entahlah. Lima tahun aku bersama Lun, dan aku belum mengerti
kepribadiannya.
Malam hari. Lun sering pulang malam
saat aku sudah terlelap. Aku tahu itu karena aku hafal suara langkah kaki Lun
yang sangat khas. Aku mengabaikannya dan ingin terbuai mimpi lagi. Tapi sesaat
kemudian, aku mendengar suara tangisan. Lun menangis? Ada apa? Aku ingin sekali
bangun tidur dan mengusap airmata di
pipinya. Tapi, aku lebih takut pada kata-kata Lun yang tak ingin berbagi
kesedihannya padaku. Dengan keegoisan, aku kembali tidur.
Paginya, aku pura-pura tidak tahu
soal tangisan Lun. Aku melihat matanya tidak sembab. Tidak ada bekas tangisan
di sana. Tapi, aku melihat air mata yang meresap di bantal Lun. Air mata yang
belum kering. Sama seperti kesedihannya.
Lun lahir di penghujung bulan Juni.
Saat hujan deras, ibunya pontang-panting pergi ke rumah sakit sendiri. Tanpa
ayahnya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan tepat seminggu sebelum Lun lahir. Setelah
melahirkan Lun, ibunya memutuskan menikah lagi karena tidak ada penghasilan
cukup. Ia menikah dengan pria yang baik. Pria itu mencukupi kebutuhannya dan
menyayangi Lun sepenuh hati. Lun memanggilnya ayah. Namun saat malam, pria itu
sering menyakiti ibunya. Sampai Lun menginjak sekolah dasar. Lun tanpa sengaja
melihat ayahnya menyakiti ibunya. Dan dia mulai menyimpan dendam pada ayahnya.
“Ayah!” Lun memeluk ayahnya yang menjemput di gerbang sekolah.
Dan ayahnya membalas dengan hangat.
Lun memutuskan untuk mengubur
dendam itu di hatinya. Ia pikir, mungkin ayahnya itu mau latihan drama. Sama
seperti di sekolahnya. Hari-hari Lun berlangsung bahagia. Dan Lun tidur dengan
hati yang tenang. Ia tidak mengetahui segala sesuatunya. Ayah Lun dibunuh oleh
kakek Lun sendiri. Ibu Lun histeris. Malam itu juga, pemakaman disegerakan.
Supaya Lun tidak tahu kalau ayahnya sudah meninggal.
“Bu, mana ayah?” Tanya Lun.
Dengan mata berkaca-kaca ibu Lun menjawab, “Ayah sedang
jalan-jalan ke negeri yang jauh sekali. Lun mau ikut ayah?”
“Nggak. Lun mau bareng ibu aja. Tapi, Lun mau telepon ayah
biar ayah bisa bawa oleh-oleh kalau pulang.”
Ibunya mengangguk. Tersenyum hambar. Sejak itu pula, ibu Lun
bekerja banting tulang menghidupi keluarganya. Siang malam ia bekerja keras.
“Bu, istirahat dulu. Lun bisa bantu kok besok,”
“ Lun, belajar yang rajin ya. Ibu ini nggak punya apa-apa.
Cuma punya kamu, nak.”
“Iya, bu. Iya.”
***
“Sif, malaikat itu seperti apa?” Tanya Lun.
“Nggak tahu, Lun. Aku belum pernah lihat malaikat soalnya,
hahaha.” Candaku.
“Kata agama, malaikat itu makhluk gaib Tuhan yang punya
sayap kan? Makhluk ciptaanNya yang
selalu menepati perintah Tuhan. Benar tidak?”
“Iya, benar.”
“Aku kenal satu malaikat, Sif. Dia tak bersayap. Kadang, ia
tidak menepati perintah Tuhan. Tapi, buatku dia malaikat. Segalanya. Aku
terlalu sayang padanya.”
“Siapa Lun? Tumben kamu bicara dalem gini.”
“Ibu. Ibuku.”
Butir pertama airmatanya telah jatuh. Sempurna tertarik oleh
gravitasi setelah mengalir di pipi Lun.
“Aku nggak bisa lupa, sif. Waktu kecil, ibuku disakiti sama
ayah. Dan ibuku diam tidak mengeluh.
Apa ibu cinta dengan ayah? Aku tidak tahu.
Mungkin ia mempertahankan hubungan demi aku yang merengek-rengek minta mainan
pada ayah tiap pulang sekolah.”
“Lun? Kamu, nggak apa?”
“Setelah itu, ayah dibunuh kakek. Ibu merahasiakan
pemakamannya. Aku tahu itu, tapi ibu bilang ayah jalan-jalan ke luar negeri. Dan
kakek bersikap seolah ia tak bersalah. Ada apa dengan keluargaku? Aku tidak
mengerti.”
“Aku sekolah di sekolah bagus, Sifa. Ibu yang
mendaftarkanku. Aku baru tahu kalau ibuku ternyata berjualan di pasar sekaligus
menjadi tukang sampah. Semua untuk membiayaiku. Ibu menyembunyikan seragam
tukang sampahnya dan mencucinya saat malam agar aku tak tahu.”
Aku diam dan mendengarkan ceritanya.
“ Tapi aku tahu, Sifa. Dan aku membalas semua dengan
prestasi. Apakah ibuku bahagia? Aku tidak tahu. Tapi ia tersenyum. Sifa, ibuku
tadi malam meninggal. Kerabatku di desa meneleponku untuk segera pulang.”
Ia menangis sesenggukan.
“Sudah, Lun. Datang aja ke pemakaman ibumu. Kamu sangat
beruntung punya ibu. Punya malaikat di hidupmu.” Jawabku sambil tersenyum, lalu
aku berbalik badan.
Seandainya kamu tahu, Lun. Aku yatim piatu dan menjadi
pengamen jalanan sejak kecil. Setiap orang pasti punya ceritanya sendiri.
Siapa malaikat di hidupku? Aku lebih tidak paham hal itu
daripada kamu, Lun.
Siapa Dia?
Sekali
lagi dia terbatuk-batuk parah. Wajahnya pucat seakan kehabisan darah. Aku tak
tau siapa dia. Aku menyimpan iba sambil mengobatinya. Memberikan obat batuk
serta minyak kayu putih untuk melegakan tenggorokannya sesaat.
Aku sedang
menjalankan piket pmr hari ini. Dan tiba-tiba ia masuk ke uks sambil memegang
dadanya. Ia tidak mengeluh atau mengatakan sakitnya padaku, tapi hanya
tersenyum.
"Terima
kasih, petugas pmr." katanya pelan. Suaranya parau namun melekat jelas
dalam pendengaranku. Aku hanya mengangguk. Dan dia kembali ke kelas.
Seminggu
berlalu. Sekolah sedang sibuk-sibuknya karena sebentar lagi ada HUT Sekolah.
Begitu pula PMR. Di balik kemeriahan HUT Sekolah, pasti akan ada yang jatuh
sakit. Entah karena kelelahan, kepanasan atau apapun. Di saat itulah PMR siap
menangani. Dan aku adalah koordinator PMR yang akan menangani siswa yang
mengalami luka.
***
Akhirnya, HUT
Sekolah pun dimulai. Semua terlihat ceria dan senang. Ada banyak penampilan di
panggung. Setiap kelas diwajibkan member penampilan berdurasi lima menit.
Kelasku, X-A menampilkan lawakan berupa menirukan gaya boyband. Aku menunggu
penampilan lucu teman-temanku sambil berdiri di depan UKS. Letak UKS di dekat
panggung. Kami PMR berjaga-jaga jika saja ada yang sakit atau pingsan.
“Sekarang, kita akan melihat penampilan
dari kelas………. Sepuluh A!” ucap pembawa acara.
“Yeeeee!!!”
Kudengar
sorak ceria itu dari teman-temanku yang mendukung dari samping panggung. Baru
saja melihat mereka berdiri, tawaku sudah berderai. Boyband lawak itu terdiri
atas lima orang. Mereka menirukan gaya boyband dan menari dengan cara aneh
sehingga membuat semua orang tertawa. Bahkan guru-guru pun sampai keluar dari
ruang guru saking hebohnya mendengar teriakan dan tawa penonton.
Ternyata
ada kesalahan. Di menit keempat, salah satu temanku tak sengaja tersandung kabel
pengeras suara sehingga ia terjatuh dan peralatan pengeras suara lain ikut berjatuhan.
Begitu pula panggungnya mulai doyong. Semua orang berlari panik menjauhi
panggung. Aku dengan segera berlari untuk menyelamatkan temanku yang jatuh.
Setelah menolongnya dari lilitan kabel, aku menyuruhnya segera pergi dari
panggung.
Hingga, ada suara benda jatuh. Dan
segalanya samar.
“Petugas PMR, bangun. Kok petugas
PMR malah terluka? Seharusnya petugas PMR itu nggak luka.” Itu suara yang
kudengar.
Suara itu
lagi. Suara yang telah berhari-hari tanpa sengaja aku rindukan. Aku membuka
mata perlahan. Di pandanganku, ada wajahnya. Ia tersenyum seperti saat pertama
kami bertemu.
“Petugas PMR, ini hansaplast. Di
tangan dan dahimu ada luka. Pasang sendiri, ya. Aku takut dosa.” Katanya.
“Jangan panggil petugas PMR.
Namaku Alia.”
Ia hanya
mengangguk dan tersenyum. Setelah itu mengucap salam dan pergi dari hadapanku.
Siapa dia? Aku lupa bertanya namanya.
https://www.facebook.com/notes/dy-lunaly/quizdy-are-you-stalker-or-php-er/433948023439769?notif_t=like
Kamis, 12 Februari 2015
Kasih Sayang Kakak
Semuanya karena sepanjang hidup
ketiga gadis kecil kakak-beradik itu telah menyaksikan bagaimana ibu dan Enong
berjuang untuk mereka. Enong bekerja keras menjadi pendulang timah sejak
usianya baru 14 tahun. Ia berusaha sedapat-dapatnya memenuhi apa yang diperlukan
ketiga adiknya dari seorang ayah. Dibelikannya mereka baju Lebaran, diurusnya
jika sakit, dan ia menangis setiap kali mengambil rapor adik-adiknya. Sebab,
saat menandatangani rapor yang seharusnya ditandatangai ayahnya itu, ia rindu
pada ayahnya.
Ania dengan cepat tumbuh remaja.
Perlahan-lahan ia mengerti pengorbanan Enong dan merasa kasihan. Ia minta
berhenti sekolah karena ingin membantu. Enong melarangnya. Suatu ketika, Enong
mengajak Ania ke sebuah toko di Tanjong Pandan. Ia membelikan adik pangkuannya
itu baju yang bagus.
“Lebaran masih lama. Mengapa Kakak
membelikanku baju?”
Enong tersenyum.
“Karena aku ingin kau tetap merasa
engkau cantik.” Enong berlalu. Ania menangis di dalam toko itu sampai
tersedak-sedak.
…
Bersusah payah Enong membujuk Ania.
Tubuhnya yang kekar seperti lelaki karena bertahun-tahun mendulang timah
merengkuh tubuh adiknya. Tangannya yang kasar membelai-belai rambutnya. Sungguh
sebuah pemandangan memilukan yang akan melekat lama dalam kenanganku. Betapa
besar hati perempuan itu.
Setiap saat saya membaca bagian ini
dari novel Cinta dalam Gelas karya Andrea Hirata, selalu saya terharu. Di masa
modern seperti ini, ternyata masih terlihat kasih sayang dari seorang kakak
kepada adiknya. Kasih sayang sederhana yang ditunjukkan kakak dengan membelikan
adiknya baju dari uang hasil keringatnya sendiri. Betapa langka menemukan jenis
kasih sayang seperti itu di tengah-tengah orang banyak yang mulai menganggap
cinta kasih seperti batu yang jika bosan tinggal dilempar dan mencari batu lain
yang lebih bagus. Sudah jarang ada kakak yang mau mengurus adiknya saat sakit.
Banyak remaja yang mempunyai saudara tapi kurang peduli terhadap saudaranya.
Karena kasih sayang itu tidak butuh yang mewah, cukup sederhana dan tulus saja
kok.
Sabtu, 13 Juli 2013
Go_ExPhy
Tepatnya bulan juli 2011, kami masih saling mengenal nama saja. Lalu perkenalan itu berlanjut. Dan banyak anak yang lupa bagaimana mereka saling mengenal. Sekarang, kami akan melanjutkan tahun ketiga pembentukan kenangan kami di sekolah menengah ini.
Kami memuat nama kelas kami, yaitu Go ExPhy yaitu singkatan dari Generation of Excellent Physics. Di sekolahku, terbagi menjadi 8 kelas. dan kelasku masuk kelas unggulan fisika. Nama itu kami setujui sebagai nama kelas.
Awalnya jumlah kami 24 siswa, tetapi pada bulan maret 2013 ada siswa yang pindah dari kelas unggulan matematika tanpa alasan yang diketahui. Dan baru-baru ini kami membuat jaket kelas yang super-duper keren. daripada kelas lain.. walaupun janji jaket itu baru selesai setelah diminta paksa oleh teman-temanku karen sang pembuat melanggar batas waktu penyelesaiannya.
kami ribut tiap hari. tapi keributan itu yang membuat kekompakan kami bertambah ;}
Kami memuat nama kelas kami, yaitu Go ExPhy yaitu singkatan dari Generation of Excellent Physics. Di sekolahku, terbagi menjadi 8 kelas. dan kelasku masuk kelas unggulan fisika. Nama itu kami setujui sebagai nama kelas.
Awalnya jumlah kami 24 siswa, tetapi pada bulan maret 2013 ada siswa yang pindah dari kelas unggulan matematika tanpa alasan yang diketahui. Dan baru-baru ini kami membuat jaket kelas yang super-duper keren. daripada kelas lain.. walaupun janji jaket itu baru selesai setelah diminta paksa oleh teman-temanku karen sang pembuat melanggar batas waktu penyelesaiannya.
kami ribut tiap hari. tapi keributan itu yang membuat kekompakan kami bertambah ;}
The Real Me
Yah. Sebenarnya aku buat blog ini (ada) bohongnya juga. Tolong dimaafin yaaa karena aku sebenarnya nggak niat bohong, muehe. Nama aku sebenarnya adalah fatima Ulya Salmiya, biasa dipanggil Ulya aja. Tapi, special friendsku yaitu GO_EXPHY manggil aku dengan sebutan uye. uye-uye-uye. uyeaaaah. wahaha.
Hobi, membaca, menulis, menghafal.. yah, terus cita-cita pengen jadi dosen, ilmuwan, penulis, sama hafizah (aamiin) . Aku suka semua pelajaran kecuali olahraga, tapi semester kemarin yeaaaaay nilai olahragaku naik 6! itu sangat mengagetkan hehe.
hm. sekarang masih berstatus sebagai pelajar kelas 9 SMPN 2 Pamekasan, Madura. Dan bercita-cita melanjutkan ke jenjang MAN Insan Cendekia di serpong, aamiin. Terus mau kuliah di UI dan dapet beasiswa ke Jepang, hehehehe...
Hobi, membaca, menulis, menghafal.. yah, terus cita-cita pengen jadi dosen, ilmuwan, penulis, sama hafizah (aamiin) . Aku suka semua pelajaran kecuali olahraga, tapi semester kemarin yeaaaaay nilai olahragaku naik 6! itu sangat mengagetkan hehe.
hm. sekarang masih berstatus sebagai pelajar kelas 9 SMPN 2 Pamekasan, Madura. Dan bercita-cita melanjutkan ke jenjang MAN Insan Cendekia di serpong, aamiin. Terus mau kuliah di UI dan dapet beasiswa ke Jepang, hehehehe...
Rabu, 10 Oktober 2012
Bayangan yang bukan hitam
Mengapa ? Setiap aku pergi selalu
kau ikutkan bayanganmu. Bayangan yang terus menghantuiku. Aku tidak
mempermasalahkan bayanganmu untuk ikut bersamaku, tapi karena bayanganmulah
yang membuatku terus mengingat apa itu kenangan.Aku kembali mengingat kenangan
dari setahun lalu. Benar-benar tidak menyangka aku dapat menyimpan rasa sejauh
ini. Mengingat kenangan 7 bulan lalu. Aku bingung, aku harus menjadi Kugy atau
Luhde ? Semua terlalu susah untuk dicampuradukkan. Terlalu susah untuk diingat
kembali dan itu malah akan membuatku semakin susah melepas bayang-bayangmu.
7 bulan dan aku benar-benar sayang
padanya . Jika aku harus merelakan bayang-bayang itu lepas, aku akan melepas
paksa bayang-bayang itu hanya padanya yang benar-benar kusayangi, temanku tercinta.
Aku rela menjadi Luhde di sini, tapi aku mungkin juga akan menjadi Kugy. Aku
akan memilih kebahagiaan yang terbaik untukmu temanku (˘⌣˘̩ƪ)
Langganan:
Postingan (Atom)
